Misteri yang ada dalam Lukisan Monalisa

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ‘sebuah lukisan dapat melukiskan ribuan kata’. Sementara itu berlaku juga untuk sebagian besar lukisan, Monalisa, lukisan hasil karya Leonardo da Vinci, sudah selama berabad-abad  terus membingungkan para kritikus seni, sejarawan, dan masyarakat pada umumnya.

Dipajang di Museum Louvre sejak tahun 1797, potret mungil ini sering disebut-sebut sebagai karya yang paling terkenal, paling banyak dikunjungi, paling banyak ditulis, paling sering dinyanyikan, dan paling sering diparodikan di dunia. Dengan demikian, penyelidikan yang lebih mendalam terhadap wanita misterius yang tersenyum di atas kanvas tersebut dapat mengungkapkan hal lain yang lebih dari sekadar keindahan karya seni. Berikut ini ada misteri dalam lukisan Mona Lisa yang perlu kalian ketahui.

Identitas Wanita di dalam Masih Menjadi Misteri

Identitas sebenarnya dari wanita di dalam potret Monalisa masih menjadi misteri. Mayoritas pemikir percaya bahwa wanita itu adalah Lisa Maria de Gherardini (Lisa Lisa Giocondo), seorang wanita bangsawan Italia yang lahir di Florence pada 1479, dan masih berusia 24 tahun ketika sedang dilukis.

Lisa ditugaskan oleh suaminya, Francesco di Bartolomeo di Zanobia del Giocondo, untuk menjadi model dalam lukisan tersebut. Dia menjalani kehidupan kelas menengah, di mana suaminya bekerja sebagai pedagang sutra dan kain. Dia juga memiliki lima anak: Piero, Andrea, Camilla, Giocondo, dan Marietta. Hipotesa lain menunjukkan bahwa wanita dalam lukisan itu cocok dengan wajah Caterina Sforza, seorang bangsawan dari Forli. Sedangkan teori lain menyebutkan bahwa wanita muda itu adalah nyonya Giuliano de ‘Medici, penguasa Florence, atau Isabella d’Este, seorang marquise dari Mantua. Sisanya mengira wanita itu adalah potret ibu da Vinci atau da Vinci sendiri karena memiliki kesamaan struktur wajah dengannya.

Senyumnya yang Tidak Kalah Misterius

Senyum Monalisa yang penuh teka-teki, menarik, dan membingungkan mungkin menjadi salah satu elemen paling misterius dari karya da Vinci ini. Selama lima abad banyak perdebatan tentang senyumannya, seperti apakah dia sedang bahagia atau sedih. Profesor Margaret Livingstone dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa “frekuensi spasial rendah” di mana potret itu dilukis menciptakan senyum yang mencolok setiap kita menatap matanya.

Pada tahun 2005, para peneliti dari Belanda menggunakan program komputer “emotion recognition”, dan menyatakan bahwa lukisan itu 83 persen bahagia, 9 persen jijik, 6 persen takut, 2 persen marah, kurang dari 1 persen netral, dan 0 persen terkejut. Namun, banyak yang mengatakan bahwa senyumnya berubah tergantung pada sudut dan jarak di mana kita melihatnya. Dalam tampilan close-up, detail halus memberikan kesan ekspresi tidak sopan dari senyumnya. Tetapi jika dilihat dari jauh, dia terlihat sedang tersenyum dengan riang.

Terdapat Kode Rahasia didalamnya

Berdasarkan dokumen dari Journal Storage (JSTOR), melalui perbesaran mikroskop dari gambar resolusi tinggi lukisan Monalisa, Komite Nasional Italia untuk Warisan Budaya telah mengungkapkan adanya serangkaian huruf dan angka yang dilukis pada berbagai fitur kanvas Mona Lisa. Di mata kanan Monalisa, sejarawan seni, Silvano Vinceti, menyatakan bahwa huruf “LV” muncul, yang diteorikan untuk mewakili nama seniman itu sendiri, Leonardo da Vinci. Di mata kiri, garis besar huruf “CE” yang terlihat tidak jelas atau mungkin “B” dapat dilihat. Sedangkan jembatan di belakangnya menampilkan angka “72” atau huruf “L” yang diikuti oleh “2” yang dilukis di atas lengkungannya.

Sampai saat ini, banyak orang yang masih bertanya-tanya apa sebenarnya maksud da Vinci ketika dia menaruh huruf dan angka ini dalam bentuk yang tidak terlihat oleh mata telanjang di dalam karya seninya sendiri.

Memiliki Pandangan yang Mengganggu

Tatapan Mona Lisa tampaknya melampaui batas-batas lukisan, dan seolah-olah langsung diarahkan kepada orang yang sedang melihatnya. Ke mana pun kita pindah, dia akan terus “melihat” kita secara langsung. Di dalam dunia tiga dimensi yang kita tempati, bayangan dan cahaya pada permukaan harus bergeser sesuai dengan sudut pandang kita, dan lukisan ini tidak berkorelasi dengan permukaan dua dimensi seperti lukisan lainnya.

Fenomena optik ini dapat dijelaskan secara ilmiah oleh University of Ohio yang menunjukkan bahwa suatu gambar mungkin tampak persis sama, tidak peduli dengan sudut pandangnya. Entah apakah hal ini diketahui oleh Leonardo da Vinci, tetapi manipulasi chiaroscuro miliknya yang luar biasa telah menciptakan rasa kedalaman yang sangat realistis dalam interaksi bayangan dan cahaya. Fenomena ini berhasil menciptakan perspektif yang berbeda, dan memberi Mona Lisa tatapan yang mengganggu pada siapapun yang melihatnya.

Wanita dalam Lukisan Monalisa Sedang Hamil

Para sejarawan seni yang percaya bahwa wanita di dalam Monalisa adalah Lisa del Giocondo juga percaya bahwa dia sedang mengandung ketika da Vinci melukisnya. Tangannya menyilang di atas perutnya yang membulat, serta bukti sejarah yang menunjukkan bahwa del Giocondo sedang hamil untuk kedua kalinya ketika lukisan itu dibuat menjadi pembenaran atas teori itu.

Selain itu, pemindaian inframerah menunjukkan adanya guarnello (“kerudung”) yang menutupi bahunya. Guarnello adalah pakaian luar yang terbuat dari kain dan dikenakan oleh wanita hamil pada saat itu. Banyak spekulasi bahwa kerudung ini bisa saja berupa syal atau sepotong kain yang tergantung di pundaknya. Namun, tangan Mona Lisa yang menutupi perutnya dan waktu pembuatannya yang secara historis akurat dengan kehamilan del Giocondo, serta penggunaan guarnello yang serupa dengan lukisan karya Sandro Botticelli – Smeralda Brandini (yang sedang hamil juga), menunjukkan bahwa dia secara misterius sedang menyembunyikan kehamilannya.

Alasan Mengapa dia Terlihat Sangat Cantik

Sepanjang sejarah, potret Monalisa sering disebut-sebut sebagai contoh dari kecantikan tiada tara. Sulit untuk mengatakan jika kecantikan dan keindahan Monalisa hanya terbatas pada tatapan dan senyumannya, karena tampaknya dua fitur ini sudah jauh terlampaui, sehingga ia menjadi kecantikan transendental yang tak dapat terlukiskan. Namun, ada kemungkinan jika rasio emas lah yang menjadi rahasia dari keindahan Mona Lisa. Rasio emas, rasio yang berasal dari hubungan dimensi panjang dan lebar dalam persegi panjang, konon menjadi proporsi yang paling menyenangkan bagi mata manusia.

Hadir dalam struktur alami, rasio emas bahkan sering disebut “proporsi ilahi” oleh Leonardo da Vinci sendiri. Sebuah persegi panjang terbentuk di sekitar wajah Monalisa sesuai rasio ini dagunya, bagian atas kepalanya, dan hidungnya benar-benar sejajar. Prevalensi rasio emas dalam karya seni mungkin menjelaskan intrik misterius yang dirasakan oleh orang-orang saat melihat Mona Lisa. Proporsinya dianggap menyenangkan bagi mata, menghasilkan rasa keseimbangan alami dan keindahan di dalamnya. Namun, tidak ada yang tahu pasti kalau matematika dapat menjelaskan daya pikat yang sudah lama dimiliki olehnya ini.

Sempat Dicuri

Monalisa pernah dicuri pada tahun 1911 oleh seorang karyawan Italia di Louvre bernama Vincenzo Peruggia. Peruggia percaya bahwa lukisan itu telah dicuri dari Florence oleh Napoleon Bonaparte, dan dia ingin melihatnya kembali ke “rumah aslinya.” Selama dua tahun, lokasi lukisan itu tetap menjadi misteri karena liputan media di seluruh dunia terus berspekulasi tentang alasan kehilangan dan lokasinya. Kemudian pada tahun 1913, Peruggia mengadakan kontak dengan dealer seni Italia, Alfredo Geri. Peruggia meminta penggantian uang dari pemerintah Italia dengan imbalan mengangkut Mona Lisa kembali ke Florence.

Sekembalinya lukisan itu, spekulasi tetap terus berlanjut. Tawaran Peruggia untuk mengembalikan lukisan itu ke Italia terlihat aneh, karena ia hanya meminta uang dalam jumlah yang sedikit. Masyarakat mulai mempertanyakan apakah insiden itu hanya sebuah tipuan yang diciptakan untuk meningkatkan minat pada lukisan dan galeri. Ketika terungkap bahwa pencuri di balik insiden itu yang telah berkolaborasi dengan Peruggia tidak lain adalah pemalsu seni terkenal, Eduardo de Valfierno, banyak yang mulai berspekulasi bahwa Monalisa dicuri untuk disalin dan dijual kepada para kolektor seni.