Misteri yang ada dalam Lukisan Monalisa

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ‘sebuah lukisan dapat melukiskan ribuan kata’. Sementara itu berlaku juga untuk sebagian besar lukisan, Monalisa, lukisan hasil karya Leonardo da Vinci, sudah selama berabad-abad  terus membingungkan para kritikus seni, sejarawan, dan masyarakat pada umumnya.

Dipajang di Museum Louvre sejak tahun 1797, potret mungil ini sering disebut-sebut sebagai karya yang paling terkenal, paling banyak dikunjungi, paling banyak ditulis, paling sering dinyanyikan, dan paling sering diparodikan di dunia. Dengan demikian, penyelidikan yang lebih mendalam terhadap wanita misterius yang tersenyum di atas kanvas tersebut dapat mengungkapkan hal lain yang lebih dari sekadar keindahan karya seni. Berikut ini ada misteri dalam lukisan Mona Lisa yang perlu kalian ketahui.

Identitas Wanita di dalam Masih Menjadi Misteri

Identitas sebenarnya dari wanita di dalam potret Monalisa masih menjadi misteri. Mayoritas pemikir percaya bahwa wanita itu adalah Lisa Maria de Gherardini (Lisa Lisa Giocondo), seorang wanita bangsawan Italia yang lahir di Florence pada 1479, dan masih berusia 24 tahun ketika sedang dilukis.

Lisa ditugaskan oleh suaminya, Francesco di Bartolomeo di Zanobia del Giocondo, untuk menjadi model dalam lukisan tersebut. Dia menjalani kehidupan kelas menengah, di mana suaminya bekerja sebagai pedagang sutra dan kain. Dia juga memiliki lima anak: Piero, Andrea, Camilla, Giocondo, dan Marietta. Hipotesa lain menunjukkan bahwa wanita dalam lukisan itu cocok dengan wajah Caterina Sforza, seorang bangsawan dari Forli. Sedangkan teori lain menyebutkan bahwa wanita muda itu adalah nyonya Giuliano de ‘Medici, penguasa Florence, atau Isabella d’Este, seorang marquise dari Mantua. Sisanya mengira wanita itu adalah potret ibu da Vinci atau da Vinci sendiri karena memiliki kesamaan struktur wajah dengannya.

Senyumnya yang Tidak Kalah Misterius

Senyum Monalisa yang penuh teka-teki, menarik, dan membingungkan mungkin menjadi salah satu elemen paling misterius dari karya da Vinci ini. Selama lima abad banyak perdebatan tentang senyumannya, seperti apakah dia sedang bahagia atau sedih. Profesor Margaret Livingstone dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa “frekuensi spasial rendah” di mana potret itu dilukis menciptakan senyum yang mencolok setiap kita menatap matanya.

Pada tahun 2005, para peneliti dari Belanda menggunakan program komputer “emotion recognition”, dan menyatakan bahwa lukisan itu 83 persen bahagia, 9 persen jijik, 6 persen takut, 2 persen marah, kurang dari 1 persen netral, dan 0 persen terkejut. Namun, banyak yang mengatakan bahwa senyumnya berubah tergantung pada sudut dan jarak di mana kita melihatnya. Dalam tampilan close-up, detail halus memberikan kesan ekspresi tidak sopan dari senyumnya. Tetapi jika dilihat dari jauh, dia terlihat sedang tersenyum dengan riang.

Terdapat Kode Rahasia didalamnya

Berdasarkan dokumen dari Journal Storage (JSTOR), melalui perbesaran mikroskop dari gambar resolusi tinggi lukisan Monalisa, Komite Nasional Italia untuk Warisan Budaya telah mengungkapkan adanya serangkaian huruf dan angka yang dilukis pada berbagai fitur kanvas Mona Lisa. Di mata kanan Monalisa, sejarawan seni, Silvano Vinceti, menyatakan bahwa huruf “LV” muncul, yang diteorikan untuk mewakili nama seniman itu sendiri, Leonardo da Vinci. Di mata kiri, garis besar huruf “CE” yang terlihat tidak jelas atau mungkin “B” dapat dilihat. Sedangkan jembatan di belakangnya menampilkan angka “72” atau huruf “L” yang diikuti oleh “2” yang dilukis di atas lengkungannya.

Sampai saat ini, banyak orang yang masih bertanya-tanya apa sebenarnya maksud da Vinci ketika dia menaruh huruf dan angka ini dalam bentuk yang tidak terlihat oleh mata telanjang di dalam karya seninya sendiri.

Memiliki Pandangan yang Mengganggu

Tatapan Mona Lisa tampaknya melampaui batas-batas lukisan, dan seolah-olah langsung diarahkan kepada orang yang sedang melihatnya. Ke mana pun kita pindah, dia akan terus “melihat” kita secara langsung. Di dalam dunia tiga dimensi yang kita tempati, bayangan dan cahaya pada permukaan harus bergeser sesuai dengan sudut pandang kita, dan lukisan ini tidak berkorelasi dengan permukaan dua dimensi seperti lukisan lainnya.

Fenomena optik ini dapat dijelaskan secara ilmiah oleh University of Ohio yang menunjukkan bahwa suatu gambar mungkin tampak persis sama, tidak peduli dengan sudut pandangnya. Entah apakah hal ini diketahui oleh Leonardo da Vinci, tetapi manipulasi chiaroscuro miliknya yang luar biasa telah menciptakan rasa kedalaman yang sangat realistis dalam interaksi bayangan dan cahaya. Fenomena ini berhasil menciptakan perspektif yang berbeda, dan memberi Mona Lisa tatapan yang mengganggu pada siapapun yang melihatnya.

Wanita dalam Lukisan Monalisa Sedang Hamil

Para sejarawan seni yang percaya bahwa wanita di dalam Monalisa adalah Lisa del Giocondo juga percaya bahwa dia sedang mengandung ketika da Vinci melukisnya. Tangannya menyilang di atas perutnya yang membulat, serta bukti sejarah yang menunjukkan bahwa del Giocondo sedang hamil untuk kedua kalinya ketika lukisan itu dibuat menjadi pembenaran atas teori itu.

Selain itu, pemindaian inframerah menunjukkan adanya guarnello (“kerudung”) yang menutupi bahunya. Guarnello adalah pakaian luar yang terbuat dari kain dan dikenakan oleh wanita hamil pada saat itu. Banyak spekulasi bahwa kerudung ini bisa saja berupa syal atau sepotong kain yang tergantung di pundaknya. Namun, tangan Mona Lisa yang menutupi perutnya dan waktu pembuatannya yang secara historis akurat dengan kehamilan del Giocondo, serta penggunaan guarnello yang serupa dengan lukisan karya Sandro Botticelli – Smeralda Brandini (yang sedang hamil juga), menunjukkan bahwa dia secara misterius sedang menyembunyikan kehamilannya.

Alasan Mengapa dia Terlihat Sangat Cantik

Sepanjang sejarah, potret Monalisa sering disebut-sebut sebagai contoh dari kecantikan tiada tara. Sulit untuk mengatakan jika kecantikan dan keindahan Monalisa hanya terbatas pada tatapan dan senyumannya, karena tampaknya dua fitur ini sudah jauh terlampaui, sehingga ia menjadi kecantikan transendental yang tak dapat terlukiskan. Namun, ada kemungkinan jika rasio emas lah yang menjadi rahasia dari keindahan Mona Lisa. Rasio emas, rasio yang berasal dari hubungan dimensi panjang dan lebar dalam persegi panjang, konon menjadi proporsi yang paling menyenangkan bagi mata manusia.

Hadir dalam struktur alami, rasio emas bahkan sering disebut “proporsi ilahi” oleh Leonardo da Vinci sendiri. Sebuah persegi panjang terbentuk di sekitar wajah Monalisa sesuai rasio ini dagunya, bagian atas kepalanya, dan hidungnya benar-benar sejajar. Prevalensi rasio emas dalam karya seni mungkin menjelaskan intrik misterius yang dirasakan oleh orang-orang saat melihat Mona Lisa. Proporsinya dianggap menyenangkan bagi mata, menghasilkan rasa keseimbangan alami dan keindahan di dalamnya. Namun, tidak ada yang tahu pasti kalau matematika dapat menjelaskan daya pikat yang sudah lama dimiliki olehnya ini.

Sempat Dicuri

Monalisa pernah dicuri pada tahun 1911 oleh seorang karyawan Italia di Louvre bernama Vincenzo Peruggia. Peruggia percaya bahwa lukisan itu telah dicuri dari Florence oleh Napoleon Bonaparte, dan dia ingin melihatnya kembali ke “rumah aslinya.” Selama dua tahun, lokasi lukisan itu tetap menjadi misteri karena liputan media di seluruh dunia terus berspekulasi tentang alasan kehilangan dan lokasinya. Kemudian pada tahun 1913, Peruggia mengadakan kontak dengan dealer seni Italia, Alfredo Geri. Peruggia meminta penggantian uang dari pemerintah Italia dengan imbalan mengangkut Mona Lisa kembali ke Florence.

Sekembalinya lukisan itu, spekulasi tetap terus berlanjut. Tawaran Peruggia untuk mengembalikan lukisan itu ke Italia terlihat aneh, karena ia hanya meminta uang dalam jumlah yang sedikit. Masyarakat mulai mempertanyakan apakah insiden itu hanya sebuah tipuan yang diciptakan untuk meningkatkan minat pada lukisan dan galeri. Ketika terungkap bahwa pencuri di balik insiden itu yang telah berkolaborasi dengan Peruggia tidak lain adalah pemalsu seni terkenal, Eduardo de Valfierno, banyak yang mulai berspekulasi bahwa Monalisa dicuri untuk disalin dan dijual kepada para kolektor seni.

Lukisan Maestro Terkenal Indonesia dan Alirannya

Esensi dari sebuah seni adalah sebuah sarana untuk dapat meluapkan ekspresi atau sebuah cita rasa yang ada di dalam sebuah media. Media yang dimaksud disini bisa bermakna cukup luas, seperti musik, tari, teater, seni rupa dan beberapa seni lainnya. Bahkan anda nantinya juga bisa menuangkan sebuah seni hanya dengan membuat sebuah wadah yang dapat digunakan untuk menuangkan ekspresi. Jika kita berbicara mengenai seni rupa, tidak sedikit nama dari beberapa maestro dan juga seniman Indonesia yang mampu menyihir banyak orang, bahkan sampai ke penjuru dunia melalui berbagai macam karya lukisnya.

Tentu saja jalan yang diambil para maestro ini tidaklah mudah dalam membuat karya-karyanya. Jatuh bangun, tetesan keringat, air mata dan sebuah kekecewaan menghiasi hari-hari mereka, hingga pada suatu titik perjuangan mereka pada akhirnya berhasil dihargai dengan penobatan “Legenda” karena banyaknya hasil karya mereka yang keindahannya sudah tidak dapat diragukan lagi. 

Lukisan Maestro Terkenal Indonesia dan Alirannya

Pada dasarnya setiap pelukis mempunyai berbagai macam karakteristik dan keistimewaan tersendiri. Dan hal itulah yang kemudian membuat mereka pada akhirnya menjadi berbeda. Dengan terus mengasah keterampilannya, sebagian dari mereka pada akhirnya dapat mengalahkan pelukis-pelukis Internasional yang ada pada saat ajang pameran. Nah, jika anda penasaran berikut ini akan kami bahas beberapa maestro lukis terkenal di Indonesia dan dunia.

Abdullah Suriosubroto (1878-1941)

Abdullah Suriosubroto lahir di Semarang pada tahun 1878. Ia merupakan anak angkat dari Dr. Wahidin Sudirohusodo, seorang Tokoh untuk Gerakan Nasional Indonesia. Ia juga dikenal sebagai seorang pelukis Indonesia pertama yang ada pada abad 20.

Pada mulanya Abdullah mengikuti jejak sang ayah angkat untuk masuk ke dalam sebuah sekolah kedokteran di Jakarta. Setelah lulus dari Jakarta ia kemudian meneruskan kuliahnya di belanda. Setelah ia menetap disana, entah kenapa Abdullah kemudian tiba-tiba beralih ke seni lukis dan masuk ke dalam sekolah seni rupa.

Sepulangnya di Indonesia Abdullah yang kemudian semakin konsisten menggeluti berbagai macam profesinya sebagai seorang pelukis. Ia sangat menyukai berbagai pemandangan, dimana ia sering menuangkan ke dalam lukisannya. Keputusan yang diambilnya sewaktu muda ternyata tidaklah sia-sia, berkat karya yang dihasilkannya ia berhasil dimasukkan dalam aliran yang dijuluki dengan “Mooi Indie” atau Hindia Indah.

Abdullah Suriosubroto masih sering dibicarakan melalui berbagai macam karya-karya lukis cat minyaknya, lukisannya yang sebagian memang menggambarkan keindahan alam dari jarak jauh dan bersifat romantik. Beliau salah satu pelukis terkenal Indonesia yang lebih banyak menghabiskan waktunya di bandung agar ia lebih dekat dengan pemandangan alam, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta dan meninggal pada tahun 1941.

Affandi Koesoema (1907-1990)

Diantara para maestro dan beberapa legenda terkenal di  Indonesia, mungkin Affandi lah, salah satu pelukis yang menggunakan teknik lukis paling aneh dan unik. Ia melukis tidak menggunakan sebuah kuas. Proses awal yang ia lakukan adalah menumpahkan cat-cat berwarna ke dalam sebuah kanvas, jika dilihat mungkin karyanya akan memberi kesan yang amburadul. Namun setelah itu Affandi akan menyikat berbagai warna-warna cat tersebut dengan jarinya hingga tahap finishing dengan hasil yang sangat menawan. Affandi Koesoema termasuk seorang seniman yang juga berumur cukup panjang. Ia lahir di Cirebon pada tahun 1907 dan kemudian meninggal pada tahun 1990.

Affandi juga digadang-gadang sebagai pelukis Indonesia yang paling terkenal di kancah dunia, berkat gaya ekspresionisnya dan juga romantisme yang sangat khas dari lukisannya. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di Amerika Serikat, Inggris, India dan juga Eropa.

Ia juga dikenal sebagai seorang yang sederhana dan juga rendah hati. Pernah pada suatu ketika, seorang kritisi lukisan dari Barat menanyakan apa gerangan dari aliran-aliran lukisannya tersebut. Tanpa disangka ia malah balik bertanya dan meminta kritikus Barat tersebut untuk menjelaskan berbagai perihal tentang aliran-aliran yang ada dalam lukisan. Namun, banyak orang yang menilainya memang cukup jenius. Karena semasa hidupnya Affandi ini telah berhasil menghasilkan karya lebih dari 2000 lukisan. 

Agus Djaya (1913-1994)

Pelukis terkenal Indonesia ini lahir dari seorang keluarga Bangsawan Banten, tepatnya pada tanggal 1 April 1913 dengan nama asli Raden Agus Djaja Suminta. Dengan latar belakang tersebut, maka tidak heran ia mendapatkan pendidikan yang cukup baik. Setelah menamatkan pendidikannya di Indonesia, Agus Djaja kemudian melanjutkan kembali ke Akademi Rijks (Academy of Fine Art) Amsterdam, Belanda. Selama berada di Eropa, ia juga sempat berkenalan dengan beberapa seniman besar dunia, diantaranya seperti Pablo Picasso, Salvador Dali termasuk juga dengan Ossip Zadkine, pematung terkenal asal Polandia.

Sekembalinya ke Indonesia Agus Djaja kemudian mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) sekaligus juga pemimpinnya pada tahun 1938-1942. Organisasi ini yang merupakan organisasi pertama seniman seni rupa yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, Agus Djaja dinyatakan sebagai salah seorang dari cikal bakal seni lukis yang ada Indonesia. Setelah itu, ia kemudian direkomendasikan oleh Bung Karno untuk menjadi Ketua Pusat Kebudayaan Bagian Seni Rupa yaitu pada tahun 1942-1945.

Selain menjadi seorang pelukis, pada zaman revolusi kemerdekaan Agus Djaja aktif sebagai Kolonel dan juga Intel dan F.P atau Persiapan lapangan. Ia juga tidak pernah absen mengadakan pameran tunggalnya selama hampir 40 tahun. Setelah zaman revolusi telah usai, April pada tahun 1976 ia mengadakan sebuah pameran tunggal di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lebih dari 70 lukisan dipajangnya.

Agus Djaja mempunyai ciri khas dengan lukisan warna biru dan merah yang terkesan memberi nuansa magis yang kental. Ia juga sering menuangkan objek wayang dalam setiap karya-karyanya. Setelah lama malang melintang di Ibukota, pada akhirnya Agus Djaja memutuskan untuk pindah ke Bali. Di sana ia mendirikan sebuah galeri impian di tepi pantai Kuta.

Barli Sasmitawinata (1921-2007)

Barli Sasmitawinata merupakan seorang maestro dari seni lukis realis yang juga jadi kebanggaan Indonesia. Ia lahir di Bandung pada 18 Maret 1921 dan kemudian meninggal di Bandung 8 Februari 2007. Barli yang mulai menggeluti dunia seni lukis sejak tahun 1935, saat kakak iparnya memintanya belajar melukis di sebuah studio milik Jos Pluimentz, pelukis asal Belgia yang dahulu sempat tinggal di Bandung.

Belum puas mendapatkan ilmu dari Jos Pluimentz, ia kemudian memutuskan untuk belajar pada Luigi Nobili, yang merupakan seorang pelukis asal Italia. Di studio ini Barli mulai berkenalan dengan Affandi. Perkenalan tersebut ternyata berhasil membuat Barli Sasmitawinata mendirikan “kelompok Lima Bandung”. Kelompok ini menjadikan hubungan mereka layaknya sebuah saudara. 

Demikian itulah beberapa nama dari maestro lukis terkenal asal Indonesia. Berbagai macam karya-karyanya bahkan tidak hanya terkenal di Indonesia saja, namun juga terkenal di kancah dunia. Kita sebagai masyarakat Indonesia sudah sepatutnya bangga dengan seniman-seniman tersebut. 

Lukisan Maha Karya Maestro Dunia

London sendiri menjadi salah satu negara yang sangat terkenal sebagai gudangnya galeri dan juga museum seni dunia. Jumlahnya ada sekitar 300 museum seni dan sebagian besar museum di sana memang dapat diakses secara gratis. Tenggelam dalam berbagai macam galeri-galeri seni yang sangat luas di London adalah sebuah kegiatan yang sangat mengasyikkan, dan menjadi salah satu kegiatan yang sayang sekali jika dilewatkan. 

Lukisan Maha Karya Maestro Dunia 

Banyak sekali karya seni yang layak dikagumi dan juga dinikmati. Karena ada banyak sekali pelukis terkenal yang ada di dunia ini. Dari banyaknya pelukis, ada sejumlah tokoh yang menciptakan sebuah karya masterpiece dengan mendedikasikan karir dan hidupnya hanya untuk dunia seni, khususnya adalah seni lukis. 

Dalam artikel ini akan dibahas, beberapa lukisan karya Maestro Dunia, yang hingga saat ini masih di abadikan. Selain anda dapat memperkaya pengetahuan tentang seni, anda sekaligus dapat mengetahui budaya dan sejarah tentang Britania Raya serta Eropa. 

The Arnolfini Portrait (Jan van Eyck, 1434)

Lukisan pertama yang akan dibahas adalah lukisan yang dibuat lebih dari 600 tahun yang lalu. Lukisan ini merupakan salah satu lukisan pertama yang dibuat dengan menggunakan bahan dasar cat minyak kayu. Jika kita melihat lebih detail lukisan ini, akan terlihat empat orang di dalam lukisan. Dua orang dapat kita lihat sebagai Tuan dan Nyonya Arnolfini yang sedang menyambut dua tamu yang datang berkunjung ke kediaman mereka.

Dua tamu tersebut dapat anda lihat di cermin yang ada di dalam lukisan tersebut. Di dalam lukisan ini memang terdapat banyak sekali detail yang sangat kecil. Sang pelukisnya bahkan sampai harus menggunakan kaca pembesar untuk dapat menyelesaikannya semuanya dengan sempurna.

The Ambassadors (Hans Holbein the Younger, 1533)

Hans Holbein the Younger adalah seorang pelukis dengan keahlian tinggi, ia ada pada periode Tudor di Inggris. Di dalam lukisannya tersebut ada sebuah tengkorak yang oleh pelukisnya sengaja dibuat dengan menggunakan distorsi. Gambar tengkorak ini baru bisa terlihat proporsional jika seseorang melihat lukisan ini dari jarak dan sudut tertentu saja. Jadi biasanya orang-orang yang berkunjung akan menemukan jarak dan sudut yang tepat untuk bisa melihat bentuk tengkorak secara proporsional. Lokasi dari lukisan The Ambassadors ini sekarang berada di National Gallery.

William Shakespeare (John Taylor, 1600)

Kontras sekali memang dengan jumlah karyanya yang sangat banyak, lukisan potret William Shakespeare ini merupakan satu-satunya dari potret diri pujangga kenamaan Britania Raya. Selain lukisan potret yang dibuat lebih dari 400 tahun yang lalu ini, tidak berhasil ditemukannya dokumentasi lain yang menggambarkan wajah dari pembuat cerita yang sangat terkenal, Romeo and Juliet ini. 

Whistlejacket (George Stubbs, 1762)

Whistlejacket adalah sebuah nama kuda yang sedang berjingkrak di dalam sebuah lukisan. George Stubbs, pelukis dengan aliran naturalisme melukis seekor kuda dengan ukuran yang sama seperti aslinya. Jadi bisa anda bayangkan bagaimana besarnya lukisan ini. Salah satu lukisan bersejarah ini sekarang disimpan di museum National Gallery.

The Fighting Temeraire (J.M.W. Turner, 1839)

Usia lukisan yang satu ini memang sudah berumur lebih dari 150 tahun. Lukisan yang mengisahkan akhir kejayaan sebuah kapal perang tua bernama kapal Temeraire, yang pada saat itu sedang diderek untuk dibawa ke tempat pembuangan kapal. Turner, salah satu pelukis yang dikenal dengan sebutan the painter of light, memanggil lukisannya ini dengan panggilan darling karena ini adalah lukisan kesayangannya.

Ia bahkan tidak menjual lukisan ini semasa hidupnya. Saat dirinya meninggal ia menyerahkan lukisan tersebut kepada negara untuk dapat dinikmati banyak orang. Sekarang Lokasi dari lukisan ini berada di National Gallery.

Ophelia (John Millais, 1851 -1852)

Lukisan ini adalah sebuah lukisan yang diangkat dari salah satu cerita Hamlet karya sastrawan Inggris yang cukup terkenal, yaitu Shakespeare. Karakter utamanya, Ophelia, sangat sedih dengan kematian sang ayah dan ia tenggelam di sungai saat sedang memetik bunga. Untuk menciptakan sebuah kesan yang sangat nyata, sang pelukis yang menganut aliran realisme rela menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam cuaca buruk untuk dapat melukis di tepi sungai.

Berbagai jenis bunga yang bisa kita pandangi di dalam lukisan ini salah satu hasil kerja kerasnya itu. Setiap bunga punya simbol masing-masing seperti weeping willows mencerminkan kesedihan, nettles kepedihan, roses cinta dan keindahan, pansies pikiran, daisies kepolosan, poppies dan violets kematian. Lukisan unik yang satu ini sekarang di simpan di Tate Britain.

A Bar at the Folies-Bergere (Édouard Manet, 1882)

Lukisan yang satu  ini menggambarkan situasi di sebuah bar di kota Paris yang ada pada abad ke-19. Karya seni ini adalah salah satu dari karya pelukis impresionis Edouard Manet yang paling terkenal, dikarenakan lukisan ini penuh dengan berbagai detail yang menarik untuk diamati. Salah satunya adalah detil sepatu dari pemain akrobat trapeze berwarna hijau terang yang ada di dalam lukisan tersebut, serta tanda tangan pelukis yang ada di salah satu gambar botol. Karena setiap detailnya menarik, maka lukisan ini jadi salah satu lukisan yang cukup terkenal di dunia.  Lokasi dari lukisan ini, sekarang berada di Courthauld Gallery.

Sunflowers (Vincent van Gogh, 1888)

Saat ini, Sunflowers adalah salah satu dari lukisan termahal yang ada di dunia. Namun cukup ironis, karena semasa hidupnya sang pelukis hidup susah karena tidak ada satupun lukisannya yang berhasil di jual. Van Gogh melukisnya untuk menyambut sang sahabat, Paul Gauguin, yang akan datang berkunjung ke rumahnya. Warna kuning menyimbolkan persahabatan dan juga sebuah kebahagiaan.

Lewat lukisan ini, Van Gogh juga ingin mengingatkan betapa kehidupan ini ternyata sangat rapuh. Di dalam lukisan ini di gambarkan beberapa batang bunga yang layu untuk menyampaikan pesan bahwa hidup memang penuh dengan kerapuhan. Sekarang Lokasi lukisan ini berada di National Gallery.

Self-portrait with a Bandaged Ear (Vincent van Gogh, 1889)

Semasa hidupnya, pelukis post-impresionisme ini diketahui memang mempunyai sebuah masalah kejiwaan. Situasi ini kemudian semakin diperburuk juga dengan keadaan ekonomi yang sulit karena tidak satupun orang yang membeli lukisannya. 

Ia melukis Self-portrait with a Bandaged Ear setelah peristiwa pertengkaran dengan sahabatnya, yaitu Paul Gauguin, yang berujung kepada sebuah kesedihan. Kesedihan tersebut diungkapkannya dengan cara menyayat sendiri telinga kanannya. Lukisan ini disebut-sebut sangat menggambarkan sebuah kepedihan dan kesedihan van Gogh.

Water-Lilies (Claude Monet, 1916)

Claude Monet adalah salah satu pelukis pionir dalam aliran impresionisme, pelukis yang sepanjang hidupnya dikenal suka membuat serangkaian lukisan dengan objek yang sama namun dibuat dengan kondisi cahaya yang berbeda-beda. Hal ini membuat setiap lukisannya menjadi sebuah karya seni yang unik. Salah satu dari rangkaian lukisan yang cukup terkenal adalah the water-lily series.

Demikian itulah beberapa mahakarya lukisan dari maestro dunia, lukisan-lukisan tersebut sekarang menjadi salah satu lukisan-lukisan mahal dengan nilai seni tinggi yang langka, jika anda ingin melihat beberapa lukisan tersebut anda dapat berkunjung ke beberapa museum yang memamerkannya.